//ADAB PEMUDA UNTUK PERADABAN BANGSA

ADAB PEMUDA UNTUK PERADABAN BANGSA

oleh: Bagus Riyono

Sebenarnya pengalaman ini menjadi contoh bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dengan segala situasi yang mungkin terjadi di luar rencana kita dan mendudukkan perkara itu supaya tidak mudah putus asa dalam keadaan yang serba tak terduga ini. Ini merupakan salah satu kunci dari adab, sesuatu yang disebut-sebut hilang dalam masyarakat Muslim. Sejalan dengan judulnya, tulisan ini membahas bagaimana kita dapat membangun peradaban bangsa Indonesia yang tinggi dan mulia dengan dimulai dari para pemuda.

Secara definisi, adab adalah perilaku yang proporsional. Ia mendudukkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai dengan derajat dan martabatnya. Penting untuk dipahami, khususnya kalimat “sesuai dengan derajat dan martabatnya,“ bukan berarti sama rata-sama rasa, bukan netral atau apa adanya, melainkan adil dan indah. Hasil dari suatu peradaban adalah keadilan dan keindahan karena segala sesuatu yang proporsional dan pada tempatnya akan menuju pada keadilan sekaligus keindahan, terkait dengan suatu karya. Prinsip ini nampak sederhana, namun dalam prakteknya tidak semudah yang dikatakan karena tidak semua orang tahu apa yang disebut proporsional dan tidak melampaui batas. Oleh karena itu, dibutuhkan ilmu dan pemahaman yang mendalam untuk mengetahui seperti apakah sesuatu yang sesuai derajat dan martabat.

Kalau adab sudah terbentuk, niscaya suatu bangsa akan bisa membangun peradaban yang tinggi dan mulia. Ini adalah suatu ilustrasi dari peradaban Spanyol di abad pertengahan, yaitu di Granada, Alhambra. Bentuk fisik ini sebenarnya bukan sekadar bangunan biasa, melainkan bangunan yang mencerminkan adab yang tinggi dan mulia. Hal ini menunjukkan bagaimana orang-orang pada abad itu memikirkan sesuatu yang indah, proporsional, dan secara struktur kuat. Perpaduan antara kekuatan dan keindahan. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, masih menjadi rujukan dan bahkan banyak ditiru secara arsitektural dan seni. Dalam bentuk material, peradaban terlihat dari karya-karya seni, artefak, arsitektur, dan peninggalan-peninggalan sejarah. Namun, untuk dapat menciptakannya tidak cukup dengan mempelajari teknik arsitektur atau keterampilan membuat karya. Hal-hal ini hanya keluaran atau dampak dari sesuatu yang lebih dalam yaitu jiwa yang kuat.

Adab yang baik bersumber dari jiwa yang bersih. Kekuatan kepribadian seseorang bersumber dari jiwa yang jernih. Bagaikan kucing berjiwa singa. Artinya, ketika orang melihat kucing ini dia akan menghormatinya sebagai singa. Jangan terbalik, misalnya serigala berbulu domba atau sesuatu yang nampaknya hebat di luar tetapi isinya keropos. Hal-hal yang di luar sebenarnya ilusi, yang nyata ada di dalam jiwa. Ibarat hologram yang memancarkan sesuatu yang berada di dalam. Pada zaman ini orang sering terkecoh dengan penampilan, gaya, dan pencitraan. Mereka lupa bahwa yang lebih penting adalah apa yang ada di dalam jiwa, seberapa bersih jiwa itu. Terkecoh dengan penampilan membuat orang sering kecewa karena sesungguhnya yang dapat diandalkan adalah kedalaman jiwa. Ini merupakan kerangka teori secara umum.

Kenyataannya, apa yang terjadi pada generasi muda? Yang dimaksud generasi muda dalam konteks ini adalah generasi zaman sekarang, sehingga tidak terbatas pada anak muda tetapi termasuk yang sudah berumur dan menduduki posisi-posisi tertentu. Permasalahan pertama, terdapat mozaik kerancuan berpikir. Rancu artinya tidak jernih dan tidak terstruktur dengan baik. Kerancuannya bermacam-macam, lalu membentuk mozaik. Mozaik artinya semacam rangkaian dari berbagai hal yang berwarna-warni tetapi sebenarnya terkait satu sama lain. Permasalahan kedua adalah krisis identitas. Orang sering tidak begitu paham tentang dirinya sendiri sehingga dia mudah terombang-ambing oleh situasi. Yang ketiga, budaya instan. Maunya cepat, tidak mau menunggu dan tidak sabar untuk dapat menciptakan karya yang luar biasa yang membutuhkan waktu lama. Hal ini terkait dengan permasalahan keempat, yaitu orientasi waktu jangka pendek. Orang cenderung tidak berpikir panjang, ingin menikmati apa yang ada saat ini, tidak punya jiwa untuk berinvestasi secara psikologis maupun karakter di masa depan. Permasalahan terakhir yaitu kecenderungan untuk mencari yang mudah. Kalau bisa jalan pintas mengapa harus mengikuti prosedur? Kelima hal ini merupakan yang saya identifikasikan sebagai permasalahan yang dapat diwaspadai dan diatasi, berupa suatu perubahan sikap yang arahnya pada pembentukan adab yang baik.

Apa yang dimaksud mozaik kerancuan berpikir? Pertama adalah kecenderungan untuk berpikir parsial. Contohnya, permasalahan hanya dilihat dari satu sisi saja tanpa menganggap sisi yang lain. Ada yang mengatakan kemiskinan adalah kesalahan pemerintah, yang lain menyalahkan masyarakat yang tidak mau berusaha. Ini dikatakan parsial karena sesungguhnya segala permasalahan tidak terlepas satu sama lain. Oleh karena itu, sebenarnya jika terjadi masalah semua wajib bertanggung jawab. Begitu juga kecenderungan mencari kambing hitam, tidak solutif. Hal ini disebabkan karena kita dididik secara sekuler, kehidupan dipisah antara kehidupan yang logis dengan yang spiritual. Bahkan ada yang memisahkan ilmu dunia dan akhirat. Pikiran kita dibentuk untuk memecah belah fenomena kehidupan, tidak mengintegrasikannya. Karena itu, dalam penyelesaian masalah tidak komprehensif dan tidak tuntas. Jika ada sesuatu yang dianggap salah cukup puas dengan menyalahkan satu sisi saja. Saat ingin membuat suatu perbaikan masing-masing merasa dapat menyelesaikannya sendiri, tidak melihatnya dari multidimensi. Ditambah lagi pemikiran-pemikiran yang muncul biasanya dangkal dan kurang radikal. Masalah radikalisme akhir-akhir ini banyak disalahpahami. Kurangnya berpikir secara radikal menyebabkan seseorang mengabaikan asal makna dari suatu kata. Makna kata radikal berbeda dengan ekstrimitas; radikal berarti mengakar, sedangkan ekstrim berarti berlebihan. Karena kita diharapkan untuk tidak menjadi radikal maka kita menjadi berpikir dangkal. Segala sesuatu hanya diambil kulitnya saja, tidak sampai akarnya. Dalam menghadapi konflik, seharusnya solusi sampai pada akarnya. Jika hanya berpikir di permukaan saja konflik tidak akan dapat terselesaikan, baik itu konflik antar golongan, agama atau suku. Sebaliknya, jika permasalahannya didiskusikan hingga pada esensinya akan ditemukan solusinya bersama.

Kemudian karena kita berpikir secara parsial, terbiasa dididik secara sekuler, tidak komprehensif, dangkal dalam pemikiran, maka kita menjadi mudah heran dan kagum. Terbuai dengan fenomena-fenomena yang tidak biasa. Cukup memprihatinkan bagaimana saat ini perdukunan tidak hanya laku di kalangan orang-orang yang tradisional atau kurang berpendidikan, tetapi justru sebaliknya. Kalangan yang bisa dikatakan modern dapat terjebak dalam perdukunan karena mereka kagum dan heran dengan sesuatu yang tidak biasa mereka pahami selama ini, terbiasa berpikir parsial. Sesuatu yang bersifat supranatural tidak pernah diajarkan, sehingga begitu dihadapkan dengan fenomena tersebut mereka terkejut dan merasa itu sesuatu yang pantas dihargai. Seandainya sejak awal kita diajarkan bahwa fenomena-fenomena kehidupan ada yang rasional dan tidak, mestinya kita tidak akan mudah terkagum-kagum dengan hal-hal yang memang mungkin tidak diajarkan di sekolah. Oleh karena itu, sebaiknya pendidikan itu terintegrasi, tidak sekuler, dan mengajarkan yang dapat dicapai dengan rasionalitas dan keimanan. Ilmu tidak cukup tanpa keimanan. Keimanan yang benar adalah yang dapat membedakan yang haq dan hanya tipuan. Oleh karena itu, mozaik kerancuan berpikir layaknya benang kusut yang harus diurai dengan hati-hati agar kita dapat menjernihkan proses berpikir kita.

Kedua, krisis identitas. Indikatornya adalah hilangnya kebanggaan sebagai Muslim. Terlalu banyak informasi yang memojokkan. Islam diberi label negatif, misalnya teroris, kaku, dan mudah marah. Pada umumnya pemuda sedikit merasa risih dan tidak bangga sebagai seorang Muslim. Kemudian, dalam krisis identitas ini ada kalangan yang ekstrim tidak percaya diri dan terlalu percaya diri, misalnya terlalu membanggakan keislamannya sehingga menjadi tidak toleran. Padahal seorang Muslim seharusnya berada di tengah-tengah dan seimbang. Di samping tidak merasa bangga sebagai Muslim, sebagai orang Indonesia dia juga tidak percaya diri. Seringkali anak-anak muda merasa Indonesia jelek, tidak maju, kalah pintar dengan orang luar negeri. Padahal kenyataan menunjukkan sebaliknya, banyak orang Indonesia yang lebih pintar dan hebat daripada orang-orang Barat tetapi kita tidak menyadari hal itu. Karena mengalami krisis identitas pemahaman kita sudah terlanjur terarahkan, menganggap diri kalah dari orang luar negeri bahkan sebelum bertanding. Kemudian, banyak remaja yang ingin menjadi „orang lain.“ Mereka selalu mencari idola dan orang yang dianggap lebih hebat dari dirinya. Ini adalah fenomena yang terjadi sehari-hari dalam masyarakat kita. Tentu tidak semua seperti itu tetapi trend ini cukup marak. Lalu terjadi lah fenomena “pungguk merindukan bulan“ karena membayangkan diri menjadi orang yang dianggap lebih baik daripada dirinya tetapi tidak mungkin mencapai itu. Banyak pemuda yang menghabiskan waktunya dengan berangan-angan yang tidak produktif.

Dari sisi budaya instan, pengaruh komunikasi dengan media sosial sangat besar terhadap kalangan pemuda saat ini, termasuk mahasiswa dan anak-anak SMP atau SMA. Mereka tidak terbiasa berkomunikasi dengan utuh. Bahkan koran sudah tidak laku lagi dengan adanya berita dari Twitter dan instant message. Mereka merasa sudah cukup, padahal hal ini memberi sumbangan pada berpikir dangkal dan parsial sebab informasi tersebut didapatkan dengan cepat. Mereka pun menjadi malas membaca tulisan panjang dan ini berakibat pada hilangnya kesabaran. Ilustrasinya seperti pengrajin keramik yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Jika tidak sabar hasilnya akan tidak rapi. Akibat lainnya yaitu mengesampingkan kualitas, inginnya instan. Misalnya, mengerjakan skripsi dengan cepat karena ingin segera lulus. Lalu saat ujian kalimatnya masih kacau, ini dianggap biasa. Dosen-dosen menyesuaikan diri dan tidak menuntut. Padahal di budaya-budaya yang lebih maju, ketelitian dan kualitas dijaga dengan baik. Pernah di suatu masa ada rapat dosen untuk memutuskan agar dalam memberikan nilai tidak terlalu mahal, kalau bisa minimal B. Hal ini dapat menyebabkan orientasi terhadap kualitas menjadi hilang. Dampak yang lebih makro, kita menjadi lebih senang mengkonsumsi. Semua barang dibeli, merasa tidak perlu membuat sendiri karena dengan begini lebih cepat. Akibatnya, bangsa Indonesia secara keseluruhan menjadi bangsa yang tidak produktif karena hanya bisa menjadi konsumen, tidak kreatif.

Berikutnya yaitu orientasi jangka pendek. Aspek ini terkait dengan bagaimana seseorang menikmati hidup. Kebanyakan orang di Indonesia pada zaman ini berpikir hanya untuk saat ini dan di tempat ini saja tanpa melihat ke depan. Cita-cita mereka berkaitan dengan hal-hal yang fana dan hanya dapat dinikmati sebentar atau untuk jangka pendek. Pada aspek budaya instan yang ditekankan adalah cepatnya meraih tujuan tersebut, sementara pada orientasi jangka pendek lebih kepada bagaimana tujuan tersebut dinikmati dalam waktu singkat. Kemudian, haus akan pujian atas prestasi-prestasi kecil. Contohnya lomba-lomba, memenangkan olimpiade, meraih nilai tertinggi  dalam Ujian Nasional. Namun setelah sekian banyak prestasi didapatkan tidak terlihat karya dan kontribusinya bagi masyarakat. Lalu fokus pada kesenangan pribadi dan enggan berjuang. Perjuangan membutuhkan orientasi jangka panjang, sementara kesenangan pribadi hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan dampak atau sumbangan apa yang dapat diberikan. Hal-hal ini memang terlihat baik, tetapi dampaknya terhadap peradaban menjadi kurang konstruktif.

Aspek terakhir adalah kecenderungan mencari yang mudah. Menyukai jalan pintas, malas mengurus sesuatu yang memakan waktu lama, malas untuk teliti. Hal ini yang kemudian berdampak pada budaya korupsi dan pungutuan liar. Ini menunjukkan bahwa orang tidak mau berjuang dan mempertahankan kejujuran karena lebih mengedepankan kemudahan. Akibatnya, mereka menjadi tidak tahan ujian. Ketika mengalami permasalahan hidup yang tidak mudah mereka mudah merasa galau dan putus asa.

Permasalahan-permasalahan ini pertama harus kita sadari, lalu pada akhirnya kita sebaiknya bisa memberikan solusi. Solusinya tentu tidak mudah melihat permasalahannya yang kompleks. Jika kita ingin mencari solusi yang cepat, itu artinya kita sudah terjebak pada mentalitas yang tidak beradab tadi. Tidak ada tips untuk cepat bahagia atau cepat sukses. Keinginan-keinginan yang instan sebenarnya merupakan bentuk penyakit hati karena menunjukkan bahwa seseorang tidak tahan dalam menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam tulisan singkat ini tentu saja saya tidak bisa memberikan solusi yang langsung efektif, tetapi setidaknya lima prinsip yang telah saya sampaikan sebelumnya dapat menjadi acuan. Jika kita tetap memegangnya, maka hal-hal yang teridentifikasi sebagai masalah tadi insyaallah dapat terurai dan terpecahkan. Pertama kita harus menguatkan iman. Iman artinya kepercayaan terhadap Yang Maha Gaib, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan Yang Maha Abadi. Dengan demikian, keimanan menjadi obat penyakit hati karena memupuk sikap-sikap orientasi jangka panjang dan tidak pernah kehilangan harapan.

Namun itu saja tidak cukup, kita harus memperdalam ilmu sebab untuk bisa memahami fenomena kehidupan kita membutuhkan kemampuan berpikir yang mendalam dan mengakar. Jika ilmu kita tidak dalam atau hanya sekadar tahu di permukaan, itu tidak akan membantu. Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmu itu secara mendalam.

Berikutnya, pertahankan idealisme. Jika kita memiliki keimanan dan ilmu, idealisme ini akan mudah kita peroleh. Terkadang idealisme seseorang tidak stabil atau naik turun, maka kita harus percaya pada sesuatu yang ideal walaupun sulit untuk dilakukan. Salah satu bentuk idealisme adalah percaya bahwa hari esok akan lebih baik. Percaya bahwa masalah akan bisa diselesaikan dan di balik kesulitan ada kemudahan. Ini bukan hanya sekadar untuk menghibur saja, melainkan harus menjadi keyakinan. Ini benar-benar esensi dari kehidupan itu sendiri karena jika kita tidak percaya bahwa hari esok bisa lebih baik, maka secara psikologis kita akan terpuruk dan kehilangan semangat hidup.

Terakhir, kita harus berpikir radikal, tidak hanya periferal. Dalam berdiskusi jangan hanya membahas kulit-kulitnya saja, kita perlu mengkaji esensi dan maksudnya. Dengan memperkuat diri dengan lima poin ini yaitu iman, ilmu, idealisme, harapan, dan radikalisme dalam berpikir maka sedikit demi sedikit kita akan bisa mengurai permasalahan kita yang kompleks tadi. Mudah-mudahan penyampaian yang singkat ini bisa memberikan paling tidak wawasan mengenai bagaimana kita bisa membangun adab.