//Kajian Peradaban

Kajian Peradaban

oleh: Bagus Riyono

Topik kita adalah tentang peradaban. Sesi pertama ini kita ingin memahami peradaban dari perspekif Psikologi. Dalam hal ini, Psikologi bukan hanya ilmu perilaku namun juga ilmu jiwa. Dalam sub judul kita adalah memahami struktur jiwa manusia dalam kaitannya dengan peradaban.

Kita semua mungkin telah merasakan bahwa akhir-akhir ini apa yang disebut peradaban dunia, terutama bagi umat Islam, membuat kita prihatin dengan berkembangnya liberalisme, perilaku yang aneh, fenomena sosial media, selebgram, hoax, dan seterusnya. Hal tersebut seolah menjadi banjir peradaban dan membuat kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi jika kita memperhatikan perilaku yang lebih parah lagi, misalnya: pembunuhan, LGBT, fenomena gang, berita bunuh diri. Ada juga orang bunuh diri pamitan di facebook atau youtube. Saya pernah merenungkan fenomena ini dan mencoba mencari jawaban. Memang benar dulu pernah diramalkan bahwa akan datang zaman edan. Kehidupan menjadi aneh. Jika tidak edan tidak keduman, kalau tidak ikut gila tidak kebagian. Seberuntung-beruntungnya orang yang khilaf atau lupa, lebih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat dan waspada itu mungkin terjemahan dari taqwa. Sejak zaman Ronggowarsito dulu sudah dipesankan bahwa dunia akan menjadi gila, namun ada sebagian kecil yang masih ingat dan waspada. Ada juga ulasan bahwa semakin mendekati kiamat, dunia akan semakin rusak. Namun jangan ditangkap keliru, banyak orang meramalkan kiamat namun responnya adalah putus asa sehingga ada fenomena bunuh diri masal. Kiamat pasti akan datang, namun kita tidak akan tahu. Semakin mendekati kiamat, masyarakat akan semakin gila. Namun bukan berarti kita “pasrah” atau ignore (tidak peduli). Kita harus menjaga diri dan keluarga kita untuk selalu ingat dan waspada. Kita membutuhkan pemikiran, ilmu, cara pandang untuk memahami apa yang terjadi sehingga tidak larut dalam arus global yang mengarah kepada kehancuran.

Dalam khasanah Sosiologi, pada tahun 60-an seorang ahli sosiologi dari Rusia bernama Pitirim Sorokin. Pitirim merumuskan apa yang terjadi di dunia itu dengan istilah sensing culture. Apa yang dimaksud dengan sensing culture ini? Yakni perilaku masyarakat yang hanya mengejar sensasi. Ada penyakit masyarakat yang indikatornya hanya memuaskan sense. Sense itu indera yang lima. Manusia direduksi hanya menjadi makhluq yang sensing saja sehingga masyarakat menjadi rusak. Dalam bahasa Pitirim, antitesis dari sensing culture adalah ideologi. Jadi obat dari sensing culture ini dioabadalah ati dengan penguatan ideologi.

Apakah ini sebuah fenomena baru? Ternyata tidak. Ini merupakan fenomena yang niscaya dalam kehidupan manusia. Pada abad 10 atau 11, Imam Al-Ghozali sudah mengungkapkan dengan bahasa yang lain. Beliau menulis buku tentang kimia kebahagiaan. Kebahagiaan itu seperti persenyaawaan berbagai unsur yang harus kita rangkai untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Beliau berkata bahwa jika engkau ingin tahu rahasia kebahagiaan, satu-satunya cara adalah dengan memahami akhirat. Namun engkau tidak akan paham kehidupan akhirat, sebelum engkau paham apa itu mati. Dan engkau tidak akan paham apa itu mati, sebelum engkau paham apa itu hidup. Dan engkau tidak akan paham apa itu hidup sebelum engkau paham apa itu jiwa. Dan jiwa itu ada dua yaitu nafsun insaniyah dan nafsun hiwaniyah. Hiwaniyah di sini jika diterjemahkan dalam Bahasa Inggris sebagai animal spirit dan insaniyah diterjemahkan sebagai human spirit. Jadi humanity ini sebenarnya beyond animal. Namun permasalahannya, psikologi yang berkembang di Barat, hanya berdasarkan animal spirit. Manusia hanya disebut sebagai human animal dan disebut sebagai hasil evolusi dari spesies yang lebih primitif. Kemudian menjadi spesies yang lebih canggih dengan segala atributnya. Dalam khasanah Psikologi Barat, banyak ekperimen yang dilakukan dengan binatang untuk digeneralisasikan dalam kehidupan manusia, misalnya Thordike, Skinner, dan Pavlov. Tapi tidak hanya eksperimen itu saja yang menggunakan binatang, namun juga yang sifatnya perkembangan ide seperti yang dijelaskan oleh Freud, sebetulnya sudah dijelaskan imam Al-Ghozali. Manusia yang dijelaskan oleh Freud itu ciri-ciri animal spirit. Yang menarik adalah, bahwa apa yang diungkapkan oleh Freud ini dianggap kebenaran karena orang merasa relate, merasa dirinya seperti yang dijelaskan oleh Freud. Ini yang membuat kita terkecoh. Imam Al-Ghozali mengatakan bahwa sebagian manusia itu saat ditanya “siapa kamu?”, dia akan menjelaskan segala sesuatu yang terkait dengan animal spirit. Kenapa begitu? Karena animal spirit ini merupakan jiwa yang dekat, yang duniawiyah yang judah dikenali misal lapar, dahaga. Di pendidikan dasar, saat ditanya apa kebutuhan dasar manusia? Jawabanya makan, minum. Itu sudah terpengaruh paham animal spirit. Seolah-olah manusia itu hakikatnya jasmaninya. Sementara itu, human spirit itu sifatnya lebih ruhaniah, lebih ghoib, lebih abstrak, lebih susah dikenali. Karena membutuhkan perenungan mendalam dan membutuhkan ilmu untuk memahaminya. Para ulama, cendekiawan musli, di abad pertengahan hampir semuanya menggali ke arah human spirit. Termasuk karya Ibnu Thufail yang klasik, yang disebut-sebut sebagai karya tulis yang disebut sebagai novel pertamanya di dunia dengan judul hayy ibn yaqzhan. Hayy itu artinya kehidupan. Yatqon itu artinya kijang. Beliau menulis sebuah kisah seorang bayi yang terdampar di pulau yang terasing. Tapi di pula itu semua kebutuhan kehidupan ada. Singkat cerita, bayi itu diasuh oleh kijang. Cerita ini yang menginspirasi novel pertama di Eropa oleh Robinson Crusoe, lalu juga menginspirasi tarzan, jungle book, moogly. Sebenarnya novel ini bukan novel biasa, karena ini novel filososfis yang menggambarkan novel manusia. Bahkan di koneferensi IAMP tahun lalu, teori perkemabngan Piaget itu menjiplak teori perkembangan Ibn Thufail. Menurut Piaget tahap perkembangan hanya 4, sedangkan menurut Ibn Thufail ada 7. Tahap 5,6,7 ini yang tidak dijelaskan oleh Piaget. Tahap 5,6,7 ini yang menghantarkan manusia sampai pada human spirit, ruh, kesadaran akan ilahiah. Saya hanya ingin menggambarkan bahwa dalam proses perkembangannya yang dia kenali adalah animal spirit (lapar, dahaga, dan sebagainya). Untuk sampai kepada human spirit, butuh pendidikan, butuh refleksi, butuh ilmu, dan butuh ujian-ujian dalam hidup sehingga biasa sampai dalam tahap tersebut. Menurut imam Al-Ghozali, setiap jiwa itu membutuhkan makanan agar sehat. Animal spirit makannya nasi, kentang, sayuran. Sedangkan human spirit, makananya adalah syukur. Jadi, semakin seseorang mampu bersyukur maka semakin sehat sisi human spirit. Semakin dekat kepada Allah, semakin dekat dengan alam ghoib. Inilah yang membuat manusia sampai kepada kebahagiaan yang hakiki yakni ketika orientasi hidupnya adalah akhirat namun tetap mampu melihat koneksi antara jiwa, hidup, mati, dan akhirat. Sampai di sini pembahasan tentang imam Al-Ghozali. Pada intinya memperkenalkan sebuah konsep tentang struktur jiwa manusia. Struktur jiwa inilah yang nantinya bisa kita gunakan sebagai perspektif untuk memahami jatuh bangunnya peradaban.

Jika saya kaitkan teori tentang peradaban, yakni teori Ibnu Kholdun, beliau juga mengatakan ada dua dimensi dalam peradaban yang secara sederhana disebut sebagai dimensi material dan dimensi spiritual. Menurut Ibnu Kholdun, peradaban akan terbangun dengan kuat ketika dimensi spiritualnya dominan. Namun begitu peradaban itu mapan, maka akan mulai tergerus materialisme. Saat peradaban sudah terjangkiti eksesif materialisme, maka peradaban itu akan hancur. Lalu akan muncul kelompok baru dari masyarakat itu yang mempunyai spiritualitas yang kuat yang akan menggantikan peradaban itu. Dalam tesisnya Ibnu Khaldun ini, hal ini dikaitkan dengan sejarah para Nabi. Dalam istilah yang sudah diterjemahkan, seorang pengamat tentang sejarah ketika mengulas karyanya Ibnu Khladun, merumuskan bahwa para nabi itu dibutuhkan ketika peradaban itu sudah hancur lebur secara internal sehingga dibutuhkan spiritualitas yang luar biasa hingga munculah para Nabi yang disebut dengan istilah extra push. Namun dalam keadaan yang masih wajar, normal, tidak terlalu esktrim, kelompok yang memperjuangkan bergantinya peradaban itu adalah kelompok yang memiliki spiritualitas yang tinggi. Ini terbukti, misalnya di Indonesia. Yang membuat Indonesia merdeka adalah spiritualitas yang dimiliki oleh pejuang kemerdekaan, yang sekarang ini hal tersebut diabaikan seolah-olah tidak ada unsur spiritualitas. Dalam hal ini setiap pejuang teriaknya “Allahu Akbar”. Kenapa berani pakai bambu runcing, rela berkorban, karena ada jihad fi sabilillah. Tidak takut mati karena mati syahid. Hal ini juga terjadi di Amerika. Saat Amerika memerdekakan diri dari Inggris, sebetulnya dimerdekakan oleh kelompok-kelompok yang sangat religius. Yang pertama kali mempelopori peradaban Amerika adalah kaum Quaker. Quaker adalah orang-orang religius yang di Inggris tidak disukai karena Inggris mulai sekuler. Ini sinkron antara Imam Al-Ghozai, Ibn Kholdun, Piritrm Sorokin, termasuk Ronggowarsito yang menulis buku Kolotido zaman edan. Kabarnya Ronggowarsito juga muridnya Imam Al-Ghozali, beliau mebaca buku-bukunya.

Jika kita ingin memahamai lebih dalam tentang struktur jiwa manusia dari kacamata Psikologi kita bisa merujuk pada 3 cendekiawan tersebut, salah satunya Pitirim Sorokin. Piritim mengatakan bahwa anggota masyarakat sudah terjangkiti gangguan mental yang disebut sensing mentality. Apa itu sensing mentality? Dari beberapa pandangan dan teori, kemudaian saya kaitkan dengan ilmu psikologi, saya merumuskannya dalam sebuah bagan yang saya sebut sebagai lapisan-lapisan jiwa.

Jadi jiwa manusia itu ada 4. Yang pertama dan merupakan lapisan terluar bernama sensing. Jadi logikanya, manusia memang terdiri dari unsur secara dzat yakni jasad dan ruh, jiwa dan raga. Antara jiwa dan raga itu merupakan dua entity yang berbeda. Karena saat kita meninggal, raga kita di kubur, dan jiwa kita kembali ke rahamatullah. Maka saat kita hidup di dunia, jiwa dan raga itu terhubungkan. Nah, sensing adalah lapisan dari jiwa yang langsung berhubungan dengan raga. Makanya dia berbentuk pegelihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan kulit. Yang kita rasakan ini, adalah jiwa kita yang sensing, bukan jasad. Hal ini terbukti dari Ilmu Psikologi bagian ilmu tentang persepsi. Kita melihat tidak dengan mata. Kita mendengar tidak dengan telinga. Kita mendengar dan melihat karena ada jiwa di sana. Secara anatomi, kita melihat itu pertama kali yang kita serap adalah cahaya. Cahaya ditangkap oleh syaraf mata menjadi zat kimia. Kemudian syaraf mata terhubung dengan syaraf otak diubah menjadi listrik sehingga menjadi abstrak. Listrik itulah yang merangsang otak sehingga kita bisa melihat. Otak itu, menurut Imam Al-Ghozali, merupakan pintu menuju jiwa. Imam AlGhozali menggmbarkan jiwa itu bersemayamnya di hati. Maka otak itu hanya saluran saja. Ungkapan Imam Al-Ghozali mengatakan bahwa jika jiwa tidak mau melihat, maka mata tidak bisa melihat. Jika jiwa mau mendengar, maka telinga bisa mendengar. Pada tataran ini, jiwa masih berada pada lapisan sensing. Jadi jika kita definisikan, sensing merupakan lapisan jiwa yang langsung berhubungan dengan jasad kita yang membuat manusia menjadi bisa merasa dan sebagainya. Jasad itu juga bisa mengalami kerusakan. Sehingga ketika jasad rusak, maka lapisan sensing ini tidak bisa efektif menangkap informasi dari luar. Ilustrasi, ketika ada orang buta maka tidak bisa melihat. Namun biasanya, lapisan sensing ini akan menggunakan tools yang lain untuk memperkuat kemampuannya untuk berinteraksi dengan dunia ini. Biasanya kalau orang buta, pendengarannya makin kuat. Ini ilustrasi saja yang mudah-mudahan membuat kita lebih mudah memahami. Nah, saya juga ingin menyampaikan juga, bahwa perasaan ini hanyalah seperti bungkus saja dari jiwa ini. Pada lapisan sensing ini kita sudah bisa merasakan. Pada saat ada angin semilir kita nyaman, melihat yang indah kita senang, mendengarkan yang lembut kita tenang. Tapi perasaan itu bukan esensi, tersebab di setiap lapisan jiwa ada perasaannya. Nah perasaan ini yang sering mengecoh kita. Pada tataran sensing, ketika orang ditanya “kenapa sih kamu begitu”, lalu di jawab “soalnya saya senang.”  Ini mesti diteliti dulu, senangnya ini ada pada lapisan apa. Jika itu masih di lapisan sensing, maka belum masuk kedalaman lapisan jiwa yang lain. Ini yang sering menyebabkan kenapa orang-orang itu berperilaku tidak masuk akal. Misalnya, pada penelitian di Jogja mengenai geng-geng motor yang namanya kliti. Mereka naik motor lalu menusuk pengendara motor lain tanpa rasa bersalah. Kemudian saat ditangkap polisi dan di interview, apakah saat kamu membunuh orang tidakkah merasa bersalah? Dia menjawab kalau tidak kenalan dengan yang dibunuh. Jadi benar-benar hanya menikmati sensasi. Hal ini juga dapat menjelaskan fenomena orang yang bunuh diri dan sebelumnya mempublikasikan. Itu ada sensai, ada semacam rasa wah saat melakukan suatu hal. Kasus lain yang terjadi di Jerman, co Pilot Jerman wings itu setelah diteliti ternyata pengen terkenal. Dia tahu kalau dia akan mati dan dia tidak ingin mati sendiri tanpa terkenal sehingga dia tarbrakkan pesawat itu ke Gunung. Itu tataran yang riil. Tataran yang lebih sederhana, misal pembuat hoax itu tidak semuanya punya maksud. Ada juga yang hanya ingin senang saat orang lain terkecoh. Ada yang cerita, dia membuat hoax dan akan senang saat nanti postingan hoax itu sampai kepada dirinya dari orang lain. Contoh lain, hacker, dia akan puas saat orang lain menderita. Jadi, sensing mentality ini adalah kegagalan manusia untuk mengenali lapisan jiwanya yang lebih dalam.

Lapisan berikutnya setelah sensing adalah reasoning. Ini sudah mulai abstrak dan merupakan bagian dari human spirit. Reasoning merupakan proses mengolah informasi, fenomena, yang sifatnya tidak lagi fisika namun bersifat konsep. Pada level reasoning ini, seseorang mulai bertanya tujuan atau alasan dibalik perilaku. Dalam tataran ini, berkembang teori, konsep, dan sebagainya. Jika sensing merupakan hubungan antara jiwa dan badan, reasoning merupakan koneksi antara jiwa dengan fenomena kehidupan. Dengan  reasoning ini kita bisa paham terhadap apa yang terjadi, bisa memprediksi dampak dari sesuatu, bisa beragargumen kenapa sesuatu bisa terjadi. Dalam tahap reasoning ini juga terdapat perasaannya. Orang itu kalau berhasil fahaeseorang yang berhasil memahami seuatu, ada rasa enang. Perasaan di reasoning ini bisa mengecoh. Ada teman yang menjadi dosen filsafat bercerita, kalau di filsafat itu ngobrol bukan untuk mencari solusi. Merasakan intellectual excercise itu sudah menyenangkan. Itu adalah jebakan di level reasoning. Debat kusir, intellectual excercise, analisys paralisys. Itu mengasyikkan. Ini lebih bermutu dari hoax namun manfaatnya tidak besar. Nah, salah satu yang saya sayangkan adalah anak-anak SMA kita ini diajari berdebat bukan untuk mencari kebenaran namun hanya menikmati perdebatan. Topik-topiknya sudah diberi tahu lalu diminta mempertahankan pendapatnya. Anak-anak itu pandai berargumen tapi tidak tahu apa tujuan dan manfaatnya. Mungkin mereka bangga karena dianggap berlatih logika, berlatih argumen, meski sebetulnya masih pada tataran superficial. Reasoning yang benar berada pada akal. Orang yang berakal itu memikirkan fenomena, mengabtraksikannya, lalu memahaminya sehingga mendekati kebenaran. Metode ilmiah yang benar itu sesuai dengan lapisan reasoning ini adalah metode ilmiah yang tujuan akhirnya adalah memahami kebenaran atau mendekatkan diri kepada Allah sehingga semakin beriman. Di sinilah tidak semua orang berilmu itu beriman. Orang yang berilmu namun tidak beriman ini hanya menikmati kepuasannya dalam berargumen. Namun kalau reasoning-nya digunakan untuk menuju kebenaran, maka saat berdebat dia tidak meletakkan dirinya sebagai sentral. Namun menempatkan kebenaran sebagai sentral sehingga dia bisa mengkritik dirinya sendiri. Dia terbuka terhadap kritikan dan perbedaan pendapat. Kritikan mungkin akan mempertajam pendapatnya dan dia akan menemukan kebenaran itu sehingga akan menemukan yang lebih benar.

Tataran yang lebih dalam adalah empathy. Sebuah istilah psikologis yang sudah sangat dikenal. Namun kadang-kadang empathy itu pemanfaatannya hanya pada konseling. Padahal empati itu seharusnya merupakan lapisan jiwa yang sangat fundamental yang dengannya jiwa seseoran bisa konek dengan jiwa yang lain. Jadi jika direview ulang, sensing adalah koneksi antara jiwa dengan raga. Reasoning merupakan koneksi antara jiwa dengan fenomena. Empathy merupakan koneksi antara satu jiwa dengan jiwa yang lain. Beberapa kali saya mendapat informasi dari orang lain tentang hadits yang menyebutkan bahwa jiwanya orang beriman itu satu sehingga saat bertemu satu dengan yang lain, bisa langsung konek. Sebelum saya di GIB, di Jogja saya bertemu dengan Ustadz Fathurrahman Kamal, ketua Majlis Tabligh Muhammadiyah. Sebelumnya saya belum pernah kenal, belum pernah ngobrol, tapi bisa langsung menjadi teman. Di situlah tataran empathy, bisa langsung cocok. Awal-awal di GIB, kita bicara seputar hal itu juga sebelum ada banyak isu. Kok bisa ya bisa bersatu padahal belum pernah bertemu dan seterusnya. Lalu ada satu testomoni seorang mualaf dari Inggris bernama Lauren Booth, seorang penyiar TV di Inggris, adik dari istrinya Tony Blair. Prosesnya masuk Islam tersebab banyak bergaul dengan masyarakat Muslim di London. Saat bergaul dengan masyarakat Muslim, dia merasa ada batas. Dia merasa masyarakat Muslim itu hidup di alam lain yang lebih tenang. Jelas dia lebih kaya, lebih cantik. Namun dia menemukan masyarakat Muslim itu sederhana dan seperti hidup di alam lain. Alam kejiwaannya berbeda. Hal ini berulang hingga akhirnya dia masuk Islam. Saat dia masuk Islam, dia melihat dirinya yang lalu dengan pandangan kok saya dulu bodoh sekali. Saat dia masuk Islam, dia merasa terlahir kembali ke fitrah saat dia masih kecil.  Dia merefleksi kembali, saat dia masih kecil dan belum didik dengan sistem pendidikan Barat yang sekuler, liberalisme, dia merasa sangat dekat dengan Tuhan saat berdoa. Namun begitu dia dididik dengan sistem pendidikan Barat yang sekuler itu, dia merasa asing. Begitu dia kembali masuk Islam, dia merasa perasaan waktu kecilnya itu kembali. Ini sudah level yang lebih dalam. Saat kita punya koneksi dengan Tuhan, ini level yang paling dalam, yakni level spiritual. Kalau koneksi antar jiwa, itu level empathy. Saat kita sering membahas tentang cinta, sebetulnya cinta sejati itu ada pada level empathy atau spiritual. Namun sekarang ini, banyak orang berbicara cinta namun pada level sensing yakni cinta menurut Freud. Dia mengatakan bahwa love is sex. Indra kulit yang digunakan sehingga saat muncul LGBT yang penting kulitnya merasakan kenimkmatan. Ini sensing. Namun mereka menamakannya love. Saat mereka menang di Amerika, mereka mengkalim bahwa cinta telah menang. Yang disebut cinta dalam pandangan mereka adalah sensasi kulit tadi. Sensing mentality sebetulnya. Banyak kasus juga, pada awalnya hidup normal punya istri dan anak, tiba-tiba di usia paruh baya cerai dan menikah lagi dengan sesama jenis. Di Amerika terjadi hal ini, bahkan di Indonesia juga. Kalau di Indonesia sangat tertutup, sedangkan di Amerika lebih terbuka. Ini adalah mereka yang terjangkiti penyakit sensing mentality.

Level spiritual, level yang paling dalam, adalah koneksi jiwa kita kepada Sang Pencipta. Kalau dalam Islam, sudah sangat jelas bahwa ruh adalah sesutau yang ditiupkan dalam jasad kita. Sehingga sebagai sebuah entity yang berbeda dengan jasad, ruh membuat manusia bisa hidup. Jiwa yang berada dalam level spiritual, adalah jiwa yang ingat dengan hubungan dengan Pencipta sehingga merindukan kembali kepada Allah. Inilah yang ditekankan oleh Imam Al-Ghozali, yakni jiwa yang merindukan Allah, jiwa yang makanannya adalah syukur. Ketika dia sudah kenyang dengan syukur, maka apapun yang terjadi dengan dunia, bagi dia tidak ada artinya. Sehingga ketika dia melihat orang heboh rebut kekuasaan, rebutan kekayaan, itu hanya permainan. Itu tidak riil. Dunia hanya permainan dan sendau gurau saja. Kalaupun dia dikhianati orang, misal bisnis ditipu, itu hanya permainan. Atau misal cintanya dikhianati, tidak patah hati karena hanya permainan. Secara psikologis, seseorang yang jiwanya utuh dan cahaya jiwanya sampai pada level spiritual, maka dia akan hidup sehat. Hal ini diungkapkan dengan indah oleh W.S Rendra dalam puisinya sebelum meninggal, beliau menulis bahwa ketika langit dan bumi bersatu, anugrah dan bencana itu sama saja. Ini contoh bagaimana pencapaian kedalaman jiwanya sudah sampai pada level spiritual. Lalu apa yang harus kita waspadai di sini? Level spiritual ini adalah level yang paling dalam dan paling susah untuk diakses, kecuali dengan dzikrullah. Metode lain, saya juga masih proses belajar, bahwa Alquran disebut sebagai Alquran maksudnya adalah agar kita baca terus menerus yang harus dibaca tiap hari. Walaupun sudah selesai, dibaca lagi. Hal itu bisa memperkuat jiwa spirutual kita. Sehingga kata seorang Ustadz di Jogja, beliau megatakan bahwa ketika jiwa telah sampai pada level yang paling dalam maka kemampuan jiwa sebagai Furqon. Lebih peka membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Saya jadi ingat cerita-cerita ulama besar yang sangat peka saat melihat makanan ini halal atau haram. Hati yang Furqon itu bisa melihat mana yang halal dan mana yang haram. Rasulullah, kadang beliau nylethuk saat ada orang lewat, ini adalah ahli syurga. Itu karena beliau melihat dengan Furqon, cahaya hatinya sangat kuat. Selain itu memang itu karunia Allah. Namun, tidak berarti kita tidak mampu dalam level tertentu melatih jiwa kita untuk bisa membedakan. Hal ini penting agar kita tidak terkecoh dan terombang ambing dengan tipuan dunia. Akhir zaman itu ditandai dengan adanya Dajjal, sang penipu. Susah sekali jika hati kita tidak kuat, kita akan terpesona. Tidak usah Dajjal, Kanjeng Dimas saja (fenomena hari ini), sudah bisa mengecoh orang. Kenapa orang bisa terkecoh? Karena cahaya jiwanya kurang terang. Kita juga menyayangkan, orang Islam juga yang terkena. Ini yang harus kita jaga. Sekali lagi, ini susah jika tidak kita jaga. Cara menjaganya, jika diperdebatkan, tidak masuk akal di level reasoning. Misalnya, jika kita sering membaca Alquran, ada orang yang merasa “saya tidak punya waktu membaca Alquran”. Seoalah-olah membaca Alquran itu menghabiskan waktu. Tapi ada yang mengatakan, semakin banyak kita membaca Alquran maka akan semakin banyak hal yang bisa kita accomplish dalam waktu yang sama. Ini hal yang tidak masuk akal. Sama dengan sedekah atau zakat. Semakin banyak harta yang kita keluarkan, semakin banyak yang kita dapatkan. Ini tidak masuk akal. Hal ini hanya bisa dipahami pada level spiritual. Tetapi itu sebetulnya adalah fenomena yang empiris. Contohnya, sebelum saya naik haji, saya sering denger cerita, setelah orang yang pulang dari pergi haji, malah beli mobil. Ibaratnya, orang yang naik haji itu seolah-olah hartanya habis. Saya tidak menyangka dan merencanakan, sepulang haji, saya beli mobil juga. Tadinya belum punya mobil, pertama kali beli mobil setelah pulang haji itu. Ternyata terjadi pada saya juga hal itu. Itu bukan fenomena ajaib sebetulnya jika seseorang telah sampai level spiritual, itu wajar sebenarnya. Sunnatullah. Karena itu tidak mudah dipahami, maka banyak orang perlu berusaha. Yang paling parah, terjebak di sensing. Di reasoning, juga bisa berhenti di situ. Ada yang salah sangka kalau empathy itu hanya perasaan. Wanita itu hanya perasaan saja, tidak rasional, dan sebagainya. Padahal wanita itu lapisan empathy nya lebih kuat dari pria, sedangkan laki-laki lebih kuat lapisan reasoningnya. Bukan berarti wanita itu lebih rendah. Karena biasanya ibu-ibu lebih peka terhadap hati anaknya. Pada umumnya, Bapak dengan anak itu tidak connect. Kalau yang spiritual ini, mau tidak mau kita harus mengikuti ibadah yang diajarkan sehingga kita bisa merasakan. Mohon maaf ya, jika terjadi perbedaan antar aliran, sebenarnya mereka terjebak di reasoning. Ketika seseorang mengkafirkan orang, dia hanya melihat ciri-ciri kafir. Itu di level reasoning. Empathy juga engga. Kalau empathy, seharusnya dia merasa. Misal jika seseorang dibilang kafir, dia akan tersinggung. Atau sebetulnya dia pengen belajar agama, belum-belum udah dibilang kafir. Nah itu empathy. Kalau kafir dalam pengertian konsep dalam arti perilaku yang kita hindari, kita memang berhati-hati. Namun kalau dalam level individu lalu dijadikan hujatan, maka level empathy kita bermasalah. Masalahnya, kadang orang melakukan klaim seperti itu, atas nama keimanan. Itu yang bikin rancu. Kalau kita sudah memahami ini, kita jangan ikut-ikutan di level reasoning. Paling tidak di level empathy. Oh mungkin hatinya cenderung keras atau bagaimana, sehingga kita bisa berdialog. Lapisan jiwa itu bisa berubah-ubah ya, lebih terang, redup, dan sebagainya karena adanya proses dialog, belajar, dan sebagainya. Yang perlu kita waspadai adalah saat terjadinya proses keimanan, yaitu saat jiwa kita mengalami kegelapan dari dalam. Sehingga terjadi semacam berkurangnya kepekaan sehingga terjebak pada sensing. Kebanyakan masyarakat dunia, bahkan umat Islam sendiri, banyak yang terjebak pada sensing mentality hingga membangun peradaban yang memprihatinkan. Karena, sistem kehidupan hari ini mereduksi kedalaman jiwa baik dalam konteks pendidikan, politik, dan sebagainya. Misalnya begini, saat kita mengadopsi pemikiran yang sekuler, itu berarti kita membunuh jiwa spiritual kita. Seolah-olah urusan agama itu tidak ada hubungannya dengan dunia. Itu artinya, jiwa spiritual kita, kita simpan entah dimana. Hidup di dunia tanpa jiwa spiritual, nah ini melemahkan. Lalu pemikiran –pemikiran liberal yang menarik ke arah sensing, membuat empathy kita jadi tumpul. Misal isu tentang HAM, hak asasi anak, hak asasi istri, hak asasi murid. Murid berani dengan gurunya, anak berani dengan orang tua, istri berani dengan suaminya. Ini karena empathy nya dibunuh dengan paham-paham yang menarik ke sensing namun tidak disadari. Orang tidak lagi mau mengalah. Orang berbicara tentang hak, sedangkan kewajiban tidak dibicarakan. Padahal mereka sendiri bilang bahwa kewajiban adalah sisi lain dari hak. Misalnya hak karyawan, kewajiban perusahaan. Hak perusahaan, kewajiban karyawan. Tapi masing-masing berbicara hak. Akibatnya terjadi pembunuhan empathy. Kalau kewajiban itu, empathy nya masih terjaga. Masih ada rasa “oh itu wajib”. Kalau tidak dilakukan merasa bersalah. Kalau hak itu, rasa bersalahnya itu hilang. Hak itu orientasinya ke diri sendiri, untuk saya mana. Nah hal-hal semacam inilah yang membuat penyakit sensing mnetality terjadi secara gradual. Sistem pendidikan kita juga masih ke sana ke mari. Tadinya ada yang mengejar prestasi, lalu berubah menjadi pendidikan karakter namun hanya tempelan aja. Intinya juga masih mengejar prestasi. Prestasi itu direduksi menjadi angka-angka. Misalnya perguruan tinggi itu berkualitas saat lulusannya banyak, masa studinya cepat, cepat mendapat pekerjaan. Akibatnya, pendidikan kita memaksakan semua lulus karena akriditasinya akan naik. Kemudian ada concern dari Pak Mahfudz MD, ada program doktor itu yang setahun meluluskan 300 doktor. Reasoning aja tidak dapat. Itu cuma senang dapat gelar saja. Banyak juga, gelar doktor diperoleh melalui kursus 3 bulan, di Amerika aja ada. Dulu waktu seawal-awal sekolah di Amerika saya di tawari, melalui email. Ini contoh penyakit yang mengarah ke sensing. Yang tidak mereka sadari adalah saat sensing culture sudah menjadi peradaban, perilaku keji merajalela di dunia. Oleh karena itu, kita sebagai pembelajar yang mengedepankan iman dan taqwa (eling lan waspada), sebaiknya kita selalu menjaga diri dan menyadari bahwa esensi dari kemanusiaan kita adalah jiwa yang lebih dalam. Hati-hati jika nanti ada trend wisata kuliner dan sebagainya, itu hanya memuaskan sensing. Nanti kalau dikatakan, kena kolesterol lho. Lalu dibilang kolesterol hanya di laboratorium. Nah ini kehati-hatiannya ditertawakan. Ini juga menyangkut masalah korupsi. Koruptor ketangkap itu karena kurang lihai aja. Nah ucapan-ucapan semacam itu, menegasikan jiwa yang lebih dalam. Guru saya, ustadz Ali, beliau sangat sedih ketika di sebuah kendaraan umum, ada orang telpon yang membicarakan tetangganya bunuh diri namun bicaranya sambil ketawa-ketawa. Orang bunuh diri itu bukan hal yang ditertawakan, itu musibah besar, neraka itu. Bercanda itu, jangan keterlaluan dalam bercanda. Bercanda itu mengeraskan hati. Awalnya senang, lama-lama mengejek temennya, hingga hatinya menjadi keras. Ketika bercanda itu lomba supaya lebih lucu, lucu-lucuan. Sangat riskan menjadi sumber kerusakan jiwa kita. Mudah-mudahan dengan memahami ini kita bisa mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita. Kita bisa mengamati fenomena dan perilaku sehingga jika terjadi kepada orang dekat kita , kita bisa menasehati. Saya tutu dengan satu ilustrasi ya. Dulu ada fenomena “om telolet om”. Itu sensing culture. Saya mengkritik itu, lalu ada teman yang protes “kenapa sih ada anak kecil yang cari seneng kok diprotes. Bahagia itu kan sederhana”. Jawabannya itu seolah filosofis padahal itu sensing culture, sensing mentality. Kadang hal yang kita anggap sederhana, tapi justru itu yang menjadi penguatan terhadap sensing mentality. Kita perlu hati-hati. Bukan berarti tidak boleh bercanda atau menikmati makanan, yang terpenting proporsional. Pesan dari Alquran, segala sesuatu yang berlebihan itu dosa. Saya cukupkan sampai di sini ya.