//PARADIGMA TAUHID, KONSEP DASAR PSIKOLOGI ISLAM

PARADIGMA TAUHID, KONSEP DASAR PSIKOLOGI ISLAM

Pengajar: Dr. Bagus Riyono

Paradigma adalah suatu kerangka pikir berserta seluruh perlengkapannya dalam mengembangkan suatu ilmu. Psikologi Islam adalah psikologi yang memiliki paradigma tauhid. Sebelum itu mari kita pahami dahulu apa itu psikologi.

Psikologi adalah ilmu tentang manusia (perilaku, pemikiran, perasaan, aspirasi, serta apa yang diandalkan dalam kehidupan). Intinya, psikologi merupakan ilmu tentang manusia dan dinamika kehidupannya.

Dahulu, Psikologi yang berasal dari kata psyche, merupakan ilmu tentang jiwa. Namun dalam perjalanannya terjadi pendangkalan yaitu psikologi menjadi ilmu tentang perilaku, dan selanjutnya berubah mendalam lagi menjadi yang kita ketahui sekarang, yaitu ilmu tentang perilaku dan proses mental.

Paradigma Psikologi Barat terbagi menjadi tiga:

1. Psikologike-Binatang-an, disebut demikian karena mempelajari atau membahas sifat-sifat kebinatangan dari manusia. Di samping juga menggunakan binatang dalam eksperimennya.

Termasuk di dalamnya ialah,

a. Freudianismeàmembahas hawa nafsu

b. Behaviorismeàjasad mekanistik

c. Psikobiologiàjasad kimiawi (hormone, senyawa-senyawa kimia dalam jasad kita)

(Aliran-aliran di atas, kecuali Freud, menggunakan binatang dalam eksperimennya)

2. Psikologi ke-Manusia-an/Humanistik, yang mengangkat psikologi dari binatang ke manusia.

Diantaranya ialah,

a. Humanistikà Freedom

b. CognitivismàManusia Pemikir

c. Positive Psychology àHuman Virtues

d. Cultural Psychology à Norma Budaya

3. Psikologi Spiritual

a. Psikologi Transpersonal

b. Hypnosis àmempercayai adanya kekuatan yang tidak kelihatan seperti kekuatan berpikir

c. Samanismeàaliran perdukunan

Psikologi Spiritual belum tentu islami. Bagi kaum sekuler, spiritualitas adalah semua hal yang tidak bias dilihat secara materi. Tidak bisa membedakan mana yang takhayul, mana yang gaib. Takhayul itu sesuatu yang tidak kelihatan dan tidak ada, sedangkan hal ghaib adalah sesuatu yang tidak kelihatan namun ada.

Psikologi Islam memiliki beberapa sifat, diantaranya,

1. Integrated

2. Holistik (Jasad, jiwa, hawa nafsu, dan pikiran semua berinteraksi)

3. Dinamik

4. ParadigmaTauhid

a. Tidak adaTuhan selain Allah

b. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah

c. Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali ke Allah

Psikologi Islam sebagai ilmu pengetahuan,

1. Dasarnya adalah Al Qur’an dan Hadist (referensi utama)

Konsekuensinya Al Qur’an dan Hadist dijadikan sebagai perspektif yang menjelaskan fenomena.

2. Nilai-nilai islam adalah sumber atau landasan berpikir (fondasi dari apa yang kita pikirkan)

3. Logika tunduk pada ayat-ayat Al Qur’an

Al Qur’an adalah sumber yang tidak akan kita utak-atik lagi, logikalah yang harus dibangun di atas ayat-ayat Al Qur’an (logika tidak boleh didahulukan)

Menundukan logika di bawah Al Qur’an, sehingga jika ada sesuatu hal yang belum bisa diselesaikan maka “logika belum mendapat petunjuk dari Al Qur’an sehingga masih bisa digali.”

Dalam Islam, empirisme bukan alat untuk mempertanyakan kebenaran tetapi alat untuk memahami kebenaran. Sedangkan banyak ilmuwan psikologi yang berpandangan keliru bahwa suatu hal hanya layak untuk dipercayai jika ada bukti empirisnya.

Jika ada hasil penelitian bertentangan dengan Al Qur’an, maka yang salah adalah penelitiannya. Logika kita mungkin baru sampai level 2, tapi Al Qur’an sudah level 1000.

Tauhid sebagai paradigm keilmuan, dapat dilihat pada QS Ibrahim 14:52. Untuk bisa mengambil pelajaran dari Al Qur’an kita harus menjadi orang yang berakal, karena hanya orang berakal saja yang bisa menangkap ilmu. Fakta-fakta kebenaran yang terungkap dari Al Qur’an berfungsi sebagai peringatan.

Paradigma Tauhid

1. Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

2. Setiap fenomena psikologis pasti ada hakikatnya yang universal (deskriptif)

Ilmu psikologi sekarang hanya berhenti pada individual differences, dibalik itu ada sesuatu yang sama atau universal (fitrah), dan hal inilah yang digali Psikologi Islam.

3. Diantara berbagai macam fenomena kehidupan pasti ada kondisi ideal yang hakiki (preskriptif). Sedangkan yang ada sekarang, kebenaran itu subjektif, misalnya tentang teori kepribadian yang berhenti hanya pada variasi.

Dalam Psikologi Islam , ada yang sifatnya perbedaan, ada yang kualitas (memberi arah mana yang baik, dan mana yang buruk). Definisi “normal” seseorang dalam psikologi, diambil dari kurva normal atau dengan kata lain kebanyakan orang. Bisa jadi orang baik (ideal)  masuk ke bagian yang tidak normal. Dalam Psikologi Islam, yang “baik” lah yang normal, yang ideal. Jadi perlu “dakwah” ke masyarakat agar orang-orang baik bisa menjadi orang yang “normal” (kebanyakan orang).

Ilmu tidak berhenti pada diferensiasi tapi mengarah pada integrasi (tidak parsial), holistic-integratif (unity of knowledge). Orang baik itu yang perilakunya baik, ibadahnya baik, jadi tidak ada dikotomi absurd yang mengatakan “lebih baik orang yang tidak pernah ibadah tapi perilakunya baik, daripada orang yang ibadah tapi perilakunya buruk.”

Dalam Islam, perbedaan itu dihargai, tidak seperti pluralisme yang berusaha menyama-nyamakan seperti dengan memunculkan kesetaraan gender. Allah swt menciptakan perbedaan, namun itu bukan untuk ditakuti atau dijadikan sumber konflik, namun agar semua saling kenal-mengenal. Tentu perbedaan yang disanjung disini bukan dalam hal kualitas namun sebatas perbedaan luar seperti kulit, ras, dan bahasa. Sedangkan dalam kualitas, yang paling baik adalah orang yang paling bertaqwa. Jadi “Horizontal differences but vertical unity” (berbeda-beda kulit, ras, namun bersama-sama meningkatkan ketaqwaan).

Perbedaan pendapat dalam islam itu dihargai. Karya-karya ulama islam, bukan berarti mereka tidak seragam, namun mereka saling menghargai. Sedangkan saat ini, di Jerman ada kelompok ilmuwan yang dibully karena tidak percaya teori Darwin. Bagi mereka, perbedaan itu sumber konflik sehingga semua hal perlu disamakan atas nama Pluralisme.