//PSIKOLOGI ISLAM UNTUK PERADABAN

PSIKOLOGI ISLAM UNTUK PERADABAN

oleh: Bagus Riyono

Psikologi sebenarnya adalah ilmu yang sangat penting bagi bangunnya peradaban. Berdasarkan pengamatan saya secara hipotetis, psikologi dalam peradaban dunia sekarang adalah Freudian, yang ditandai dengan merebaknya LGBT, banyaknya gerakan yang semaunya sendiri, dan sebagainya. Sering dikatakan bahwa Freud adalah masa lalu dan sudah lewat tetapi sekarang sudah menjadi peradaban. Pada era “baby boomer” di Amerika setelah perang dunia kedua atau istilahnya era “happy days”, behavioristik menguasai, bagaimana masyarakat Amerika sangat tertata dengan institusi-institusi yang sangat kuat. Namun anehnya, sekarang berkembang menjadi Freudian tanpa kita sadari, sehingga banyak psikolog, yang tidak sadar terjatuh dalam kubangan Freudian.

Psikologi Islam adalah harapan untuk kita mengentaskan diri dari peradaban Freudian menjadi peradaban yang Islami. Hal ini diperkuat oleh kesimpulan Dr. Ali Abdelmoenim, ahli maqasid peradaban, yang mengatakan bahwa inti dari peradaban adalah psikologi karena ilmu ini yang akan mendefinisikan manusia, mendesain pendidikan, dan kemasyarakatan. Ilmu psikologi bukan hanya ilmu pertukangan dalam artian kita menjadi ahli tes, ahli konseling, dan lain-lain, melainkan ilmu yang bersifat filosofis, mengakar, dan menentukan perilaku kita.

Fenomena di Amerika menunjukkan bahwa masyarakat ilmuwan yang paling atheis adalah masyarakat ilmuwan psikologi. Ilmu psikologi sendiri memiliki “worldview” yang membuat orang menjadi atheis dan sekuler. Di satu sisi psikologi sangat penting bagi peradaban, di sisi lain dia adalah ilmu yang bisa merusak apabila tidak kita kuasai dengan baik dan kita hanya menyerah saja pada ilmu psikologi yang ada saat ini. Perlu diingat bahwa gerakan-gerakan LGBT di Amerika masuk melalui ilmu psikologii (APA). Hukum itu sendiri tunduk pada ilmu psikologi. Setelah di APA digarap hingga akhirnya hilang dari DSM, mereka bekerja terus sampai ke mahkamah agung. Saat itu ada sembilan hakim, yang anti LGBT empat orang dan yang pro lima, sehingga akhirnya Amerika melegalkan LGBT berdasarkan voting. Oleh karena itu, psikologi adalah ilmu yang sangat penting dalam membangun masyarakat.

Jika kita ingin menegakkan Psikologi Islam dan bercita-cita membangun peradaban yang Islami, terdapat sebuah metafor untuk memahami secara singkat dan meresapinya. Apakah untuk memahami Psikologi Islam kita perlu membuang semua ilmu yang sudah kita pelajari? Jawabannya tidak. Ibarat mutiara, yang berasal dari tempat yang menjijikkan karena merupakan ludah kerang dan tersebar di lautan. Psikologi kontemporer sebenarnya mengandung mutiara-mutiara tetapi diselimuti sesuatu yang mengotorinya. Dengan begitu, Psikologi Islam bukan berarti “anti“ psikologi barat, melainkan “membersihkan“ psikologi barat dari kotoran-kotoran, seperti filsafat eksistensialisme (Nietzsche), filsafat hedonisme (Freudian).

Freud tidak seratus persen salah, dia benar ketika kita posisikan dalam konteks hawa nafsu karena Freudian adalah ilmu tentang hawa nafsu manusia. Namun, kita tidak dapat mengaplikasikannya dalam membahas orang yang saleh dan suka berdzikir karena menurut psikologi sekuler orang yang suka berdzikir mengalami obsesif-kompulsif. Contoh lain adalah behaviorisme, tentang perilaku, bahwa perilaku bisa dibiasakan. Namun, apabila kita lalu mengingkari motivasi, kepribadian, dan hanya ada perilaku, maka akan menjadi sangat superfisial. Oleh karena itu, Psikologi Islam berperan untuk mengambil mutiaranya, lalu membersihkannya, dan merangkainya menjadi untaian mutiara yang indah supaya terintegrasi. Kata kuncinya adalah Tauhid, yang salah satu dari konsekuensinya yaitu integrasi.