//TEORI R.U.H

TEORI R.U.H

Oleh: Bagus Riyono

Jadi sekali lagi, dengan kemampuan kita untuk memilih dalam hidup ini sesungguhnya kita ini memiliki opsi yang tak terbatas yang bisa kita pilih. Demikian juga halnya dengan pemaknaan karena pemaknaan itu juga pilihan. Jadi jika anda akan memaknai sesuatu anda bisa apa saja. Orang bisa memaknai baju sebagai penutup aurat tetapi ada juga yang memaknai baju itu sebagai gengsi, sebagai social status atau social ekonomi. Tas misalnya ada yang hanya untuk tempat barang, ada yang untuk socialita tasnya lebih penting dari dirinya. Jadi misalnya turun hujan, yang dipayungi itu tasnya bukan dirinya, karena tasnya jika terkena air hujan nanti rusak padahal harganya minimal 25jt itupun yang murah. Jadi makna itu bisa luas sekali karena makna itu pilihan juga. Ketika kita menghadapi sesuatu yang bisa bervariasi sedemikian rupa, itu artinya kita menghadapi ketidakpastian. Inilah inti U (Uncertainly) dari RUH ini. Jadi karena hisdup kita ini demikian banyak pilihan, maka hakekat dari kehidupan itu sebetulnya adalah ketidakpastian. Kalau anda tidak diberikan kemampuan untuk memilih, dan hanya mengikuti insting saja itu berarti anda tidak menghadapi ketidakpastian. Kemarin anak saya disuruh ibunya untuk membuang kucing karena sudah mulai ganas dan sukanya mencari jalan untuk masuk rumah, kucing itu kucing kampong yang sudah kita didik sejak bayi waktu masih kecil lucu dan penurut tapi begitu sudah dewasa kucing itu nakal, segala sesuatu yang berada di meja makan di berantakin lalu anak saya disuruh ibunya untuk membuang, kira-kira kucingnya stress tidak? Ternyata tidak, begitu ditaruh di jalan lari saja mencari makan seperti biasanya. Kenpa? Karena dia tidak punya pilihan yang dia cari hanya makan saja dan hanya menggunakan insting saja. Tetapi jika manusia yang diperlakukan seperti itu, dia akan stress, karena terlalu banyak pilihan dan terlalu bebas. Anak jalanan itu juga dihadapkan dengan ketidakpastian maka dari itu dia maunya yang gampang-gampang saja. Manusia itu tidak tahan kadang-kadang jika sedang menghadapi ketidakpastian karena dia tidak mempunyai kekuatan kepribadian karena ketidakpastian itu bisa menyiksa.

Namun demikian, disisi lain ketidakpastian itu merupakan pernyataan yang netral. Ketidakpastian itu bisa menimbulkan kecemasan, tetapi kalau kita berpikiran positif ketidakpastian itu akan memberi peluang. Karena yang namanya peluang itu semakin banyak kemungkinan semakin peluangnya juga banyak. Tetapi banyaknya kemungkinan jika kita tidak siap dengan kreatifitas, inisiatif dan sebagainya itu kita akan bingung, karena itu menjadi sumber kecemasan. Sehingga uncertainly itu memiliki dua dimensi sebetulnya yaitu Risk dan Hope, itulah dasar dari teori RUH. Sehingga yang namanya kehidupan yang fana ini, esensinya adalah RUH. Kalau anda sudah menemukan RUH nya keidupan maka anda akan selamat. Tetapi kalau anda tidak paham, maka anda akan terombang ambing dalam ketidakpastian. Dan ketidakpastian itu kalau tidak anda kelola dengan baik maka dia akan memberikan kecemasan, sehingga dari interaksi antara tiga karakteristik / atribut kehidupan itu kita akan bisa memetakkan, lima jenis kepribadian manusia. dan lima jenis kepribadian ini ditentukan oleh tiga hal itu semuanya ada dan semua orang mengahadapi tiga hal itu. Hanya yang membedakan dari orang satu ke yang lainnya adalah kadarnya/dosisnya. Pertama, uncertainly itu rangenya itu dari kalau uncertainly itu besar dengan uncertainly kecil. Kalau uncertainly nol itu berarti pasti, kalau pasti itu persentasenya 100% dan probablitasnya 1. Kalau uncertainly nya tertinggi persentasenya 50%. Itu hubungannya 50:50 jadi kalau anda eksperimen, itu kemungkinan slahnya 50%. Kalau kemungkinan salahnya sudah lebih dari 50% berarti  sudah menurun uncertainly nya. Jadi 50:50 itu probablility nya orang yang fatalistic karena dia tidak mempunyai sikap, tidak mempunyai ilmu dan tidak mempunyai apa-apa dan punya nya hanya 50:50. Sehingga uncertainly tertinggi itu adalah 50:50, dan jika digambarkan uncertainly itu seperti kurva normal. Ketika uncertainly itu turun atau ketika kesempatan yang anda hadapi itu bergeser ke kiri itu artinya semakin besar resikonya. Sebaliknya, jika turunnya ke arah kanan, maka akan semakin banyak hopenya. Jadi harapan dan resiko itu sesuatu yang berlawanan arahnya. Ketika resiko itu semakin besar kalau kita kaitkan dengan teori tentang motivation model itu ketika semua resiko nya besar berarti yang semakin kuat adalah challenge nya. Sebaliknya, semakin banyak hope maka akan semakin opportunitynya atau peluangnya. Kalau kita gabungkan uncertainly, challenge dan opportunity nya maka Y nya akan berubah menjadi kekuatan motivasi. Berubahnya kalau secraa teroitis menjadi rumus

motivation force = selisih dari risk dengan uncertainly2  x hope

karena ini peramaan kuadrat maka grafiknya lengkung/kurva tetapi kurvanya ini memiliki dua pucuk / twin picks. Ini ketika Y nya kita ganti motivation force yaitu adalah hasil produk dari persamaan

r – u2 x hope

yang artinya ada tiga titik dimana motivasi itu minimum. Lalu ada dua titik yang motivasinya itu bisa dikatakan optimum. Kalau kita lihat dari logika, semakin kesana semakin besar resikonya. Akhirnya ketika sudah sampai di bawah ini artinya resikonya maksimum jadi pasti buruk/no hope. Ketika hope itu sama dengan nol, maka segala sesuatu yang dikalikan nol maka hasilnya akan nol. Sehingga motivasinya juga nol. Dua titik ini terjadi ketika uncertainly itu 50:50. Ketika uncertainly 50:50 antara risk dan hope nya itu juga 50:50 artinya risknya juga 50, 50 – 50 = 0 berarti dia juga akan nol. 02 = 0 x 0 = 0.

Mengapa ketika hope nya itu maksimum dia turun motivasinya? Ini yang sering atau orang sering terlena. Logikanya, ketika hope nya itu 100 maka risknya 0. Dan ketika risknya 0, hope nya 100 maka Uncertainly nya 0 juga.

Sekarang, ini sya sebut lima pshycology curve state jadi ini jenis kepribadian yang pshycologycal state. State itu artinya kondisi psikologi seseorang dan itu bisa membentuk kepribadiannya. Untuk yang nomor satu itu adalah kondisi psikologis ketika dia tidak memiliki harapan dalam hidupnya, tetapi yang namanya harapan itu subjekif berarti kondisi psikologis dan bukan kondisi real. Seseorang kelhilangan harapan itu bukan karena kondisi objektif namun itu karena kondisi psikologis dia. Makanya ini disebut titik learned helplessness. Jadi keadaan tidak berdaya tetapi yang learned/kesimpulan dia bahwa dia tidak berdaya karena dia tidak melihat ada harapan. Itu penelitiannya memakai anjing, gajah juga bisa. Gajah itu kalau disirkus sejak kecil dirantai kakinya sehingga dia waktu kecil mau memberontak tidak bisa. Tetapi dia menyerah pada rantai itu, walaupun dia sudah tumbuh besar kekuatannya sudah sungguh luar biasa tetapi saat dia dirantai dia tidak bisa berbuat apa-apa, itulah yang disebut learned helplessness. Padahl ketika dia sudah besar, rantai itu tidak ada pengaruhnya dia tending saja hancur sudah. Maka dari itu jika ada gajah yang ngamuk, itu karena dia tidak ingat lagi apa yang dia pelajari tentang rantai itu dan justru pada saat dia sadar maka dia tidak bisa menghancurkan rantai itu karena dia belajar bahwa ini membuat saya tidak dapat bergerak.

Anda, kita, manusia ini kadang-kadang dalam hidup terlalu banyak mengalami pengalaman yang buruk, gagal terjadi learned helplessness ketika dia kehilangan harapan. Tetapi ada orang yang tidak sekedar spesifik tetapi semua masalah kehidupannya dia pikir sudah tidak dapat diatasi lagi sehingga dia mengalami depresi. Dan depresi berat itu jika semakin berat dia akan memiliki kecenderungan akan bunuh diri. Kondisi kedua disebut optimum challenge, kita lihat tadi semakin besar resikonya maka semakin challenging. Ja di bukan maksimum, karena kalau maksimum maka akan dekat dengan learned helplessness. Karena optimum maka dia akan memiliki kekuatan maksimal. Jadi ketika anda itu terpaksa, maka anda akan bergerak, itu kan optimum challenge. Artinya apa? Anda merasa tertindas, mendesak tetapi anda masih punya sedikit harapan. Tetapi kalau learned helplessness tadi harapannya sudah habis sehingga terjadi depresi. Contoh mutakhir adalah pasar ikan Jakarta, itu tadinya protes semua tetapi beberapa sudah tidak protes lagi tapi ada juga beberapa yang masih protes. Yang masih protes itu masih melihat setitik harapan, dan siapa tahu nanti protesnya itu ada hasilnya dan mengalami optimum challenge. Tetapi kalau yang sudah capek protes, itu dia merasa sudah tidak ada harapan lagi.

Kondisi yang ketiga, adalah the psychology state of fatalism, jadi orang yang melihat semuanya 50:50. Saya kalau belajar atau tidak belajar untung kalau nilai bagus kalau tidak ya jelek. Tidakperlu membuat tesis yang sudah nanti nilai juga belum tentu baik. Kita sudah bekerja dengan bagus-bagus nanti nilai juga hanya “B”. sedangkan jika nanti kita bekerja dengan biasa-biasa saja hasil nilainya juga ”B”. jadi orang yang fatalistic itu susah dimotivasi karena seolah-olah mereka itu punya wishdom lalu dia sering menggunakan tawakal, menggunakan kata-kata takdir dan sebagainya padahal dia sebenarnya fatalistis. Jadi mungkin kata-katanya itu benar tetapi sikapnya itu tidak benar. Membajak wishdom supaya menjadi alasan untuk dia tidak berusaha apa-apa. Ini mungkin tidak akan mengganggu kita, tetapi susah untuk diharapakan untuk membantu kita.

Kondisi yang keempat, ini yang disebut psychology state of optimum opportunity. Sehingga inilah kepribadian yang paling positif karena dia selalu bisa melihat peluang dibalik segala tantangan. Dia selalu bisa melihat opportunity dalam keadaan apapun. Dia tidak mengatakan 50:50 tapi dia selalu melihat mungkin 70%. Sehingga ada dorongan untuk mengejarnya, itu yang optimum opportunity. Dan dia tidak terganggu oleh ketidakpastian karena dia bisa menerima, memang belum pasti tetapi kemungkinannya banyak. Para pebisnis yang sukses mereka selalu di optimum opportunity. Orang lain mungkin tidak melihat peluang tetapi dia melihat banyak peluang. Jadi memang ada keberanian untuk melihat peluang. Kemarin baru saja berkunjung ke shabila farm, perkebunan buah naga. Beliau memberdayakan para petani itu dan dia mengatakan “kalau petani itu sudah diberikan training dua kali, dan dia masih bertanya nanti bagaimana pak? Nanti menjualnya bagaimana? Maka tidak akan dia teruskan.” Karena itu orang-orang yang siap untuk menghadapi ketidakpastian.