//TIGA HUKUM KEHIDUPAN

TIGA HUKUM KEHIDUPAN

oleh: Bagus Riyono

Kita akan membahas tiga hukum kehidupan yang teridentifikasi sampai saat ini. Sebelumnya, saya ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan hukum. Menurut Dr. Zakir Naik, hukum berbeda dengan teori. Teori masih berupa hipotesis, perkiraan, dan spekulasi yang masih perlu diuji. Jika Anda melakukan penelitian ilmiah, biasanya Anda menguji teori, mengonfirmasi apakah teori yang sudah Anda pelajari, dipublikasikan, dan dikenal terdukung oleh data empiris. Sementara itu, hukum sudah terbukti, tidak terbantahkan lagi, menjadi asumsi dasar, dan sebagai dasar tempat berpijak ketika kita membangun teori. Misalnya, dalam fisika ada hukum gravitasi yang sudah bukan teori lagi karena tidak ada lagi yang menguji. Pada zaman Galileo Galilei, hukum gravitasi masih diuji tetapi setelah diuji berkali-kali terbukti, terdukung, dan semakin kuat sehingga menjadi hukum. Lalu, ada hukum kekekalan massa dari Newton dan hukum Kepler mengenai peredaran bintang-bintang. Artinya, hukum kehidupan juga sesuatu yang sudah tak terbantahkan lagi tentang kehidupan kita dan Anda boleh mengonfirmasinya, menyaksikan, merasakan, dan tidak ada sesuatu yang bisa membatalkan hukum itu.

Jika kita ingin mengidentifikasi tentang kehidupan, bisa dimulai dengan pertanyaan, “Sebenarnya apa yang universal tentang kehidupan kita? Apa yang kita alami dan semua orang mengalaminya, yang tidak tergantung ruang dan waktu, tempat, budaya, gender, usia, sehingga sangat universal?” Ada hukum yang sudah pasti tetapi tidak akan kita bahas di sini karena semua orang sudah tahu, yaitu bahwa sesungguhnya yang hidup akan mati. Dalam bahasa gravitasi, what goes up will go down. Atau misalnya kiamat, itu sebenarnya hukum juga tapi dalam konteks ini mungkin tidak dimasukkan karena bagi orang kafir kiamat agak susah diterima sehingga kita tidak bisa berdiskusi dengan mereka. Tiga hukum yang saya pilih bisa kita diskusikan dengan orang kafir juga sehingga jika kita menghayatinya dengan sungguh-sungguh, kita bisa menggunakan ilmu ini sebagai senjata untuk berdialog, berdiskusi atau berdebat. Debat itu boleh jika dalam rangka memperkuat keimanan dan mencari kebenaran.

Selain kematian dan kefanaan, hukum yang pertama adalah hukum ketidakpastian atau uncertainty. Ketidakpastian tentang masa depan. Perlu saya tegaskan bahwa hukum-hukum kehidupan itu ada di Al-Quran dan ada alasannya. Yang menentukan adalah Allah sehingga kita hanya mempelajari dan mencoba memahami apa yang disampaikan. Di surat Saba‘ dikatakan bahwa kiamat pasti datang. Yang mengetahui kapan datangnya hanya Allah dan itu tidak bisa diundur dan dimajukan. Sama halnya dengan ajal. Artinya Allah memang sengaja membuat uncertainty dalam kehidupan kita.

Hidup yang Anda hadapi sehari-hari adalah ketidakpastian. Dampak dari ketidakpastian bisa bermacam-macam tergantung pada bagaimana Anda meresponsnya dan sejauh mana Anda punya ilmu untuk menyikapinya. Ada yang meresponsnya dengan kecemasan, kegelisahan, atau meyakinkan diri sendiri. Misalnya, seringkali di pelatihan motivasi, ditawarkan pernyataan “Anda pasti sukses“ atau “Anda pasti bisa.” Ini contoh bagaimana kita merespons ketidakpastian dengan meyakinkan diri yang sebenarnya itu menipu. Dalam Islam, kita tidak bertanggung jawab atas kesuksesan, yang kita pertanggungjawabkan adalah usaha, ikhtiar. Ungkapan “manusia hanya berusaha, Allah yang menentukan” sebenarnya mengandung makna bahwa hasilnya tidak bisa kita terima. Mereka yang tidak terima dengan kenyataan berusaha meyakinkan diri, “Saya bisa menentukan masa depan saya.” “Jika mengikuti pelatihan ini Anda akan bisa mendapatkan masa depan sesuai dengan yang Anda inginkan. Dijamin sukses, tidak ada yang tidak.” Ini manipulatif, menipu. Hukum ketidakpastian sebenarnya perwujudan atau salah satu indikator bahwa hidup adalah ujian.

Respons terbaik terhadap ketidakpastian sudah diberikan dalam Al-Quran, misalnya, “Sesungguhnya akhir akan lebih baik dari permulaan.” “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.“ “Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian.“ “Apakah kamu kira kamu masuk surga padahal belum jelas amalan-amalanmu, padahal umat-umat terdahulu sudah diuji sedemikian rupa, sementara kamu belum diuji sedikit pun.” Sebenarnya pesan-pesan ini masih dalam kerangka ketidakpastian tetapi ketidakpastian yang positif, yang disebut sebagai harapan. Dalam Al-Insyirah, “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” Artinya kerjakan lah dengan sungguh-sungguh hal-hal lain setelah kamu selesai mengerjakan sesuatu dan hanya kepada Allah lah seharusnya engkau berharap. Ini masih berada dalam kerangka ketidakpastian tetapi diarahkan kepada yang positif, yaitu harapan. Lalu apa perbedaan makna dari ungkapan “kamu pasti bisa, kamu pasti sukses” dengan “di balik kesulitan ada kemudahan”?

Perbedaannya terletak pada ekspektasi dan harapan. Dalam Bahasa Inggris harapan terbagi tiga: wish, hope, dan expectation. Wish kita coret karena artinya “angan-angan.” Perbedaan dari ekspektasi dan harapan yaitu ekspektasi menuntut, menjerat, dan berbuah kekecewaan, sedangkan harapan (hope) itu mengalir seperti sayap dan tidak ada habisnya. Orang yang selalu memiliki harapan tidak akan pernah menyesal karena harapan tidak pernah habis sehingga bisa menjadi sarana untuk bersyukur. Mereka tidak pernah berkeluh kesah karena selalu melihat hikmahnya setiap terjadi peristiwa. “Kok saya nggak lulus ya kuliah ini?” Jika berekspektasi, “Saya harusnya lulus wong sudah belajar kok nggak lulus, ini dosennya memang killer,” orang akan selalu protes seperti itu apabila ekspektasinya tidak terpenuhi. Ini pemahaman yang esensial karena penting untuk menyikapi hukum pertama. Jika kita tidak berhasil memahaminya, kita akan terjebak pada kegelisahan dan kecemasan.

Suatu ketika Anda sedang aktif berkegiatan dan memiliki banyak tanggung jawab, lalu tiba-tiba jatuh sakit dan tidak bisa melakukan apa pun. Jika dalam hati Anda adalah ekspektasi, maka Anda akan sangat menderita. “Waduh gimana ini saya tu pekerjaannya banyak sekali e, kok sakit?” Namun, jika dalam hati Anda adalah, harapan maka Anda, “Oh mungkin ini ada hikmahnya, mungkin Allah menyuruh saya istirahat.” Bahkan secara psikologis Anda akan lebih cepat sembuh karena tidak protes. Jika protes Anda mungkin tambah sakit, bukan hanya sakit fisik tapi sakit hati. Bisa jadi menyebabkan dosa-dosa tidak diampuni karena tidak bersabar.

Sabar dan syukur itu sebenarnya bukan dua hal yang berbeda karena ketika kita sakit, di hati kita ada harapan maka sebenarnya kita juga syukur. Salah bentuk syukur adalah bersabar. Orang yang tidak sabar otomatis tidak bersyukur, yang tidak bersyukur otomatis tidak sabar. Ini adalah dua dimensi dari satu kesatuan, keimanan. Jika ada yang mengatakan bahwa kita bersyukur ketika mendapat anugerah, bersabar ketika mendapat musibah, sebenarnya itu hanya simplifikasi. Secara lebih mendalam, di balik bersyukur ada sabar dan di balik sabar ada syukur.

Ketika kata expectation dan hope diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia terkadang semuanya diterjemahkan sebagai harapan sehingga seolah-olah perbedaannya kecil tetapi esensi hakikatnya sangat besar. Jika kita ilustrasikan, misalnya Anda sebagai orang tua berkata kepada anak gadis Anda, “I expect you to pass the exam.” Dengan kalimat, “I hope you will pass the exam”, akan menimbulkan nuansa yang berbeda sehingga respons yang seharusnya terhadap hukum kehidupan yang pertama adalah hope atau harapan. Terlebih ternyata jika seseorang kehilangan harapan, ia akan berusaha yang berarti ini wajib. Jangan lah berputus asa terhadap rahmat Allah karena itu dosa. Orang yang tidak putus asa adalah orang yang dalam hatinya penuh dengan harapan, sedangkan orang yang dalam hatinya penuh dengan ekspektasi, dia akan menuai kekecewaan demi kekecewaan dalam hidupnya yang akhirnya berujung pada sakit hati dan jiwanya mengalami kesakitan.

Ekspektasi adalah judging, menuntut, dan menghakimi bahkan kadang-kadang kita menghakimi Allah. “Kok Allah nggak adil sih? Kok ada orang baik, tulus, ikhlas tapi tetap miskin sementara koruptor-koruptor itu kaya raya?” Misalnya seperti itu. Ini kurang beradab, Allah tidak seharusnya dihakimi. Ketika hati kita dipenuhi ekspektasi, kita menjadi orang yang tidak bersyukur. Ujiannya adalah uncertainty, yaitu untuk menguji apakah kita bersyukur atau tidak. Bukan berarti kemudian Anda seperti penjudi, “Ya bisa aja kamu sholat, puasa, dan jadi muslim yang baik itu kan tetap belum pasti, siapa tahu saya yang masuk surga kamu malah masuk neraka,” seperti ini adalah gambling.

Ada seseorang yang di kantornya termasuk rajin sholat, sementara teman-temannya dari kalangan jetsetter yang sholatnya tidak lima waktu dan senang berhura-hura. Suatu saat temannya berkata, ”Mbak, jangan-jangan kamu rajin sholat gitu nanti malah masuk neraka, jangan-jangan yang masuk surga malah aku.” Itu gambling. Jadi, ketidakpastian juga dapat membuat seseorang melihatnya sebagai perjudian. Dalam melihat masalah ini, Einstein sudah menyimpulkan bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu. Alam semesta ini ada desainnya, Tuhan tidak gambling. Harapan bukan gambling karena ketika Anda gambling, Anda masuk dalam jebakan fatalisme sehingga tidak melihat sebenarnya orang yang fatalistik tidak memiliki harapan. Dalam Bahasa Jawanya anut grubyug, hanya ikut-ikutan. Jika ditanya, “Sebenarnya apa sih yang kamu usahakan? Ya namanya juga nasib kita kan ditentukan Allah, ya terserah Allah,” seolah-olah tawakal tapi sebenarnya gambling.

Ketika Al-Quran menyebut “apakah kamu kira kamu masuk surga padahal belum teruji kehidupanmu”, bukan berarti supaya kita gambling dengan berpikir bahwa percuma berusaha, melainkan bahwa hidup ini adalah ujian. Oleh karena itu, jangan sombong, jangan merasa benar sendiri, jangan sibuk menilai orang lain, jangan suka mengafirkan orang lain, bahkan mengolok-olok orang lain. Siapa tahu kita sebenarnya lebih buruk dari yang diolok-olok. Menggibah juga tidak diperbolehkan. Kita harus sibuk mengevaluasi diri sendiri sampai tidak sempat mengevaluasi orang lain karena kita sendiri belum pasti masuk surga. Namun begitu, jangan pernah berputus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah, bahwa di balik kesulitan ada kemudahan. Dengan begitu, seorang muslim sejati berhati ringan dan tidak ada beban. Dia selalu berbahagia karena penuh syukur, harap, dan tidak pernah terkejut dengan musibah. Dia sudah mengantisipasi bahwa suatu saat mungkin kita akan terkena musibah karena hidup kita penuh dengan ketidakpastian dan dalam setiap musibah dia selalu menyebut innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Ada film berdasar kisah nyata tentang Ratu Elizabeth dan Putri Diana di Inggris yang meninggalnya bersama dengan Dody Al-Fayed yang seorang muslim. Ketika Putri Diana meninggal, terjadi perdebatan di kerajaan terkait pemakamannya, apakah sebaiknya dimakamkan kerajaan atau keluarganya. Ini berlangsung lama sekali sampai mungkin berbulan-bulan. Lalu, ibu surinya menyampaikan kepada Ratu Elizabeth bahwa Dody Al-Fayed begitu meninggal hari esoknya langsung dimakamkan. Ratu Elizabeth bertanya-tanya mengapa mereka kebingungan hanya masalah memakamkan. Dalam Islam, mati kemudian dikubur, selesai dan mudah. Itu salah satu bentuk sederhananya. Bagi kita, ketika mati tidak perlu memakai imej, pencitraan, atau siapa yang menghormatinya.

Di budaya Amerika, orang yang menghadiri pemakaman diharuskan untuk bersedih. Pernah ada suatu peristiwa seorang siswa Amerika yang sedang menjalani program pertukaran pelajar di Indonesia mengalami kecelakaan dan meninggal di Bali. Teman-temannya merencanakan acara menyalakan lilin di Jakarta. Lalu, orang tua angkatnya yang beragama Islam meminta untuk mengikhlaskannya. Temannya tersinggung, “Kok diikhlaskan saja, ini teman saya meninggal, saya harus sedih.” Di budaya Cina, saat pemakaman didatangkan orang bayaran yang harus menangis supaya membuat suasana menjadi sedih.

Bagi orang yang tidak beriman atau berbeda iman dengan kita, kematian dianggap sebagai kekejaman. Charles Darwin merespons kematian anaknya dengan menganggap Tuhannya kejam sehingga dia balas dendam lewat Tuhan. Sementara itu, kita diperintahkan untuk mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Di sini lah sikap seorang muslim menghadapi hukum pertama.

Hukum kedua dalam kehidupan menyangkut fitrah kita. Apa sebenarnya yang sama dari semua manusia ini – dalam bahasa matematikanya common denominator – sejak lahir? Mungkin bisa diidentifikasi banyak, misalnya punya mulut, hidung, dan lain-lain tetapi bukan itu, melainkan sesuatu yang secara psikologis menjadi fitrah kita semua sehingga kita harus meresponsnya dengan tepat. Keunikan apa yang Allah ciptakan yang dimiliki semua manusia sehingga membuat manusia berbeda dibandingkan makhluk yang lain? Kebebasan.

Dalam Universal Declaration of Human Rights di artikel pertama dikatakan all human beings are born free. Hukum kedua dalam kehidupan manusia ini adalah bahwa semua manusia memiliki kebebasan. Kebebasan untuk bersikap, memilih, dan berperilaku. Apa konsekuensinya jika Anda bebas? Atau untuk memahami itu Anda bisa juga memikirkan sebaliknya. Jika Anda tidak bebas, konsekuensinya apa? Misalnya Anda ingin kuliah di Fakultas Psikologi tetapi orang tua ingin Anda masuk Fakultas Kedokteran dan memang kebetulan Anda pintar. Ayah Anda tidak mau membiayai kuliah Anda jika tidak kuliah di Fakultas Kedokteran. Akhirnya, masuk lah Anda ke Fakultas Kedokteran padahal Anda inginnya belajar psikologi. Yang terjadi adalah hati Anda tidak ikhlas, meskipun diikhlas-ikhlaskan tetap ada yang mengganjal. Dampaknya, Anda merasa bahwa ini bukan pilihan Anda sendiri, melainkan kemauan orang tua sehingga jika gagal Anda akan menyalahkan orang tua.

Dalam dunia militer, para prajurit tidak boleh bertindak tanpa perintah dari atasannya sehingga apa pun yang dilakukan oleh prajurit itu selalu dalam rangka memenuhi perintah atasannya. Jika yang dilakukan itu ternyata salah, yang harus bertanggung jawab adalah atasannya. Prajurit tersebut akan mengatakan bahwa dia hanya mengikuti perintah. Dalam Al-Quran banyak sekali dibahas suasana di akhirat, termasuk bagaimana mereka yang divonis masuk neraka protes dengan alasan tidak tahu atau ditipu setan. Setan akan berkata, “Salah sendiri mau saya tipu.” Ada juga orang kuat dan orang lemah, masuk neraka semua. Orang lemah menyalahkan orang kuat, “Wah, gara-gara kamu aku masuk neraka. Katanya kamu kuat, hebat, tapi saya turuti malah saya jadi masuk neraka.“ Orang kuat berkata, “Siapa yang menghalangi kamu tidak menuruti aku?” Artinya, apa pun kondisinya Anda tetap punya kebebasan. Apa pun yang kita lakukan adalah pilihan kita sendiri sehingga ketika terjadi sesuatu, diri sendiri yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, konsekuensi logis dari kebebasan adalah tanggung jawab. Anda harus bertanggung jawab terhadap apa pun yang Anda lakukan walaupun alasan Anda karena diperintah,. Ini adalah prinsip hukum kehidupan yang kedua.

Dalam Al-A’raf ayat 172, sebelum Allah meniupkan ruh kita sudah ditanya, “Siapa Tuhanmu?” Allah. Lalu, ditiupkan. Allah melakukan itu supaya nantinya tidak ada yang mengaku, ”Saya tidak tahu siapa itu Allah.” Kita sudah dibekali pengetahuan mengenal Allah sebelum lahir. Jika di dunia kita melakukan sesuatu dengan alasan, “Saya tidak tahu, tidak ada yang memberi tahu mana yang baik dan buruk.“ Pada kenyatannya, sudah diberi tahu berarti tetap harus bertanggung jawab. Seandainya belum pernah diberi tahu bahwa Anda hamba Allah dan harus bertanggung jawab kepada Allah mungkin Anda akan beralasan seperti itu. Allah sudah mendesain bahwa kita sudah tahu siapa Allah, hanya terkadang kita menipu diri sendiri dan menutupi sehingga ketika diberi kebebasan kita memilih perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Allah tetapi tidak mau bertanggung jawab. Itu lah sebabnya di banyak ayat Al-Quran, selalu ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menganiaya hambanya tetapi mereka menganiaya dirinya sendiri. Sesungguhnya tidak ada paksaan dalam agama, sudah jelas mana yang benar dan yang salah tinggal memilih. Bahkan dalam surat Al-Kahfi, Allah menegaskan beriman atau kafir adalah pilihan kita tetapi kita harus menanggung akibatnya.

Ini merupakan ekspresi-ekspresi yang menegaskan bahwa sesungguhnya hukum kehidupan yang kedua adalah semua manusia memiliki kebebasan dan konsekuensi logis dari kebebasan itu adalah bertanggung jawab. Jangan pernah Anda menyalahkan orang lain, beralasan bahwa Anda tidak tahu, dijerumuskan orang, dan sebagainya karena semua itu adalah tanggung jawab Anda. Kembali lagi ke bahasan pertama, ilmu adalah landasan dari keimanan. Gunakan akal Anda untuk mengambil keputusan, jangan hanya ikut pimpinan, orang tua, kebanyakan orang, tradisi, atau nenek moyang.

Hukum ketiga adalah kenyataan bahwa manusia sesungguhnya lemah. Vulnerable. Fragile. Jika melihat alam semesta ini, kita kecil sekali, bahkan di bumi sendiri 70% adalah lautan. Mudah bagi Allah menyenggol bumi, menggoyangkan air, lalu terjadi tsunami yang menenggelamkan semua pulau. Maka dari itu, jangan bersikap sombong, jangan terlalu merasa hebat, sepandai dan sekaya apa pun Anda. Sadari kelemahan Anda sehingga jangan ragu untuk meminta pertolongan dan mengakui kekurangan Anda.

Respons terbaik ketika kita menghadapi kenyataan hidup bahwa kita lemah adalah kita harus rendah hati. Kita harus mengaku bahwa tidak semuanya bisa kita selesaikan, kerjakan, dan tanggung sendiri sehingga jangan merasa Anda tidak butuh pertolongan Allah. Ada orang-orang kaya yang seolah-olah bersyukur tetapi mereka berkata, “Wah, saya semuanya sudah dicukupi Allah. Kalau saya berdoa, saya malu masa sudah seperti ini apalagi yang saya minta?“ Ini sebenarnya bentuk kesombongan.

Anda harus berdoa, menangis, dan meminta pertolongan kepada Allah. Setiap membaca surat Al-Fatihah, Anda meminta pertolongan pada Allah. Jangan pernah merasa sudah cukup kuat. Dalam menghadapi setan, Anda akan sangat lemah jika tidak dilindungi Allah. Dalam menghadapi ujian kehidupan, Anda akan sangat mudah terpeleset dan mudah terkecoh, sehingga Anda harus selalu beristighfar. Hukum ketiga ini walaupun mungkin sudah banyak orang yang mengatakan tetapi terkadang penghayatannya kurang. Jika Anda gagal memahami makna bahwa manusia itu lemah, Anda akan terjebak dalam ignorance atau kesombongan. Jika Anda bisa menghayati bahwa Anda sangat lemah dalam kehidupan ini, maka Anda akan rindu untuk selalu berdoa kepada Allah dan sholat karena ini merupakan sarana untuk berkomunikasi dan memohon kepada Allah.

Sigmund Freud atau Karl Marx beranggapan bahwa agama hanya untuk orang-orang yang lemah. Ini kesombongan, tidak mengakui bahwa dia lemah. Dari pandangan orang ateis dan orang kafir, orang beragama sering menangis seperti orang lemah. Pada kenyataannya, kita memang lemah dan justru yang realistis adalah yang mengaku lemah. Filsafat eksistensialis adalah filsafat yang mengaku manusia itu perkasa. W.S. Rendra di akhir hidupnya membuat testimoni bahwa dirinya pada awalnya eksistensialis, belajar tentang filsafat ke Amerika, dan menemui tokoh-tokoh eksistensialis yang akhirnya pada bunuh diri.” Lalu, Rendra ingat surat Al-Ashr dan menemukan kebenaran. Yang terpenting adalah bagaimana kita beriman dan beramal sholeh, bersabar dan menegakkan kebenaran. Orang yang eksistensialis justru akan kehilangan makna hidup karena pada umumnya akhirnya bunuh diri. Ini salah satu fenomena ketika manusia menolak hukum kehidupan atau kenyataan bahwa manusia sebenarnya lemah. Anda harus selalu memohon pertolongan Allah dan menghargai pertolongan orang lain. Jangan merasa tidak butuh siapa-siapa karena itu sumber kesombongan.

Kesimpulannya, hukum pertama kehidupan adalah yang kita hadapi dalam hidup ini adalah ketidakpastian. Satu-satunya respons yang valid adalah kita harus selalu menanamkan harapan dalam hati kita. Hukum kedua, kita merupakan satu-satunya makhluk yang dikaruniai kebebasan. All human beings are born free. Konsekuensi logisnya, semua manusia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Hukum ketiga, manusia sesungguhnya lemah. Respons yang paling valid terhadap kenyataan ini adalah bersikap rendah hati, selalu meminta pertolongan kepada Allah, dan menghargai peran pertolongan orang lain sehingga terhindar dari sikap sombong dan sikap merasa hebat atau benar sendiri.